When Daddy Had the Chicken Pox

Luna membaca When Daddy Had the Chicken Pox. Pictures by Lionel Kalish, Sterling Publication. (df)

About Dina Faoziah

An Indonesian mother. Supports personalized education. Sees school merely as one of the vehicles to achieve dreams.

7 Responses to “When Daddy Had the Chicken Pox”

  1. subhanallah.. sugooi Luna-chan. udah kaya native speaker bacanya, kalah telak saya >.< mulai usia berapa, mbak, belajar baca bahasa Inggris? ikut kursus atau sekolahnya emang pake eigo? keep going ya, Luna!

    • Maaf lama sekali balesnya, Ega, maklum ini ibu2 sok sibuk, hahaha… (baca: pelupa, kikikik).

      Luna sejak bayi dibacain buku2 berbahasa Inggris, kadang2 nyanyi2 lagu bahasa Inggris, nonton Disney Junior, dan kalo pagi dengerin NPR. Kayaknya itu aja udah cukup yak, hihihi…

      Hoikuen-nya berbahasa Jepang, kok.

    • haha, saya aja udah lupa kalo pernah komen :P
      wah, thanks banget infonya, saya catet deh biar ntar bisa diadaptasi buat anak-anak saya :D
      ohya, tapi bahasa Indonesia-nya lancar nggak? biasanya anak-anak yang dari kecil main language-nya Japanese/English gitu jadi kagok ngomong bahasa sendiri.

    • Alhamdulillah, Luna bahasa Indonesianya juga lancar, Ega. Semuanya jalan bareng (bahasa Indonesia, Inggris, Jepang), cuma memang bahasa Indonesianya gak selancar anak2 yg besar di Indonesia yah.

      Karena komentar Ega ini, aku iseng nanya sama Luna, “Luna bisa yah 3 bahasa?” Terus Luna bilang, “Tapi yg paling jarang ngomong itu bahasa Inggris.” Begitulah, hihihi…

      Masalah bahasanya Luna itu termasuk eksperimen pribadiku. Sejak lahir ngomong di rumah biasa aja pake bahasa Indonesia, gak dicampur2 (yah, kecampur logat Jawa kaleee *ngikik*). Waktu menjelang bobok dibacain buku bahasa Inggris apa adanya yg tertulis di buku (gak pake diterang2in dlm bahasa Indonesia). Terus bahasa Jepangnya full kuserahin ke hoikuen, di rumah gak ngomong bahasa Jepang sama sekali. Jadi waktu pertama kali masuk hoikuen ya Luna gak ngerti bahasa Jepang. Tahun2 pertama pun ngomongnya masih kecampur bahasa Indonesia, begitu menurut gurunya. Tapi aku gak pernah khawatir karena pernah baca kalo anak multibahasa akan mengalami fase seperti itu.

      Buku2nya Luna di rumah paling banyak bahasa Inggris, disusul bahasa Indonesia. Buku bahasa Jepangnya dikiiit banget, itu pun kebanyakan hadiah. Memang rada menghindar beli buku berbahasa Jepang, kalo ada perlunya baru ke perpus aja, hihihi…

      Begitu yak kayaknya :D

    • alhamdulillah, makasih banyak yah sharing-nya, berguna banget! dari dulu saya juga punya cita-cita gitu, mbak.. punya anak yg bisa multibahasa. cuma, kangmasku punya opini lain yg kurang sejalan :D sst, tapi kan pendidikan anak yg paling ngaruh tetap dari ibunya ya, jadi santai aja lah ya, toh yg ngedesain “kurikulum”-nya kita, bukan bapak *hahaha* ditunggu upload video lainnya :)

  2. Ibunye jago, Ga, (ayammm kali jago .. :p) cas cis cus bahasa Inggris. Ngajar privat bahasa Indonesia ke orang Jepang lagi. Bahasa Jepangnya juga udah lewat rrrrr apa itu JLPT level 1??

    (Ma’af ya Din, saya yang jawab, abisan udah dari Oktober itu Ega nanyanya :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers

%d bloggers like this: