Cara Mendidik Anak Berbakat Ala Kayoko Kubota (1)

update: Kurikulum pendidikan rumah untuk anak usia TK (4, 5, 6 tahun) bisa dibaca di Kurikulum HS Anak Usia TK. Tapi bukan ala Kayoko Kubota, ya. :D

***

Beberapa kali di milis sekolahrumah kubaca pertanyaan tentang bagaimana cara HS anak yang baru lahir atau masih kecil. Setiap kali membaca pertanyaan tersebut aku berpikir, yang penting banyak bermain bersama bayi, banyak mencurahkan perhatian dan kasih sayang, serta melibatkan bayi dalam kegiatan sehari-hari. Kami sendiri selalu membacakan Luna buku sejak ia lahir. Dan yang paling penting, orang tua dan anak sama-sama menikmati interaksi tersebut…, enjoy gitu.

Semalam (Minggu, 31 Mei 2009) di Fuji TV ada tayangan “Echika no Kagami: Chou-eisai Kyouiku Spesharu” (Cermin Etika: Tayangan Spesial Pendidikan Untuk Anak Berbakat). Isinya tentang metode mendidik anak berbakat sejak lahir (istilah Jepangnya: zero-sai alias 0 tahun) ala Kayoko Kubota. Kebetulan, pikirku, sekalian kutulis saja. Jadi, tulisan ini untuk para orang tua yang mencari-cari metode-metode mendidik anak cerdas atau berbakat pada usia dini seperti ini.

Kayoko Kubota adalah istri Kisou Kubota, profesor emeritus Universitas Kyoto dan peneliti kemampuan otak ternama di Jepang.

Poin-poin penting ala Kayoko Kubota ini kuambil dari blog berikut (berbahasa Jepang), isinya sama dengan tayangan di teve, kok.

http://makotoecocoro.blog57.fc2.com/blog-entry-190.html

A. Untuk bayi di bawah 1 tahun:

1) Selalu mengajak bayi mengobrol ketika mengganti popok. Bayi tidak bisa berbicara, tetapi bisa mendengar. Ini akan merangsang otak anak yang berkaitan dengan bahasa.

2) Bermain cilukba 5 kali sehari. Memfokuskan pandangan dan menantikan hal yang akan terjadi akan mengasah frontal association area. Dilakukan berkali-kali sampai anak bosan.

df: Contohnya, pakai panggung boneka kertas. Boneka dibuat dua sisi, sisi yang misterius (misalnya tangannya menutupi muka, atau dari belakang), dan sisi yang terbuka (depan).

3) Memakaikan baju berwarna-warni. Mengasah indra anak atas warna.

4) Sebisa mungkin menggendong anak di belakang. Mengasah sensasi kesejajaran, yang akan berguna dalam kemampuan fisik.

5) Kalau berbicara tidak dicadel-cadelkan. Jika terbiasa berbicara dengan bahasa bayi, ketika anak besar orang tua harus mengajarkan bahasa standar. Jadi, hindarilah kesia-siaan.

6) Berkali-kali menunjukkan cara menggunakan sumpit, pensil, krayon, dan sejenisnya dengan benar. Caranya, pangku anak dan pegangi tangannya dari belakang. Jangan berhadap-hadapan.

7) Selalu menanyakan, “Suka yang mana?” Mengasah kemampuan memutuskan.

B. Untuk balita yang mulai berjalan:

1) Menghitung mundur dari 10 sampai 0 waktu memandikan anak. Mengasah kemampuan menghitung.

2) Menepati janji. Misalnya, ada tamu datang dan anak diminta menunggu 30 menit. Selewat 30 menit, orang tua harus menepati janji kembali bermain dengan anak.

Dengan cara ini, anak laki-laki Kayoko Kubota (yang menurut pengakuannya sendiri dijadikan kelinci percobaan): 1) mulai berjalan pada usia 7 bulan (biasanya sekitar usia 1 tahun); 2) menguasai 3.000 kosakata pada usia 1 tahun (biasanya 2-3 tahun); 3) bisa membaca huruf hiragana pada usia 2 tahun (biasanya 3-6 tahun); 4) berhasil memasuki Universitas Tokyo.

(update: Seorang bloger Malaysia yang tinggal di Jepang, kyo_9, juga menulis tentang hal di atas pada blognya: http://kyo9.blogspot.com/2009/06/baby-genius.html)

Masih ada terusannya. Cara baru, katanya. Rupanya tayangan yang kuringkas di atas sudah pernah disiarkan setahun sebelumnya. Fuji TV kembali mewawancarai Kayoko Kubota yang kini berusia 78 tahun. Poin-poin pentingnya kuambil dari entri lain pada blog yang sama: http://makotoecocoro.blog57.fc2.com/blog-entry-233.html

C. Untuk bayi di bawah 1 tahun:

1) Melatih anak untuk berhenti dengan kata “stop” yang diucapkan dengan tegas. Misalnya ketika menitah (melatih berjalan) anak.

2) Pelan-pelan ketika menggunakan mainan kerincing (rattle/garagara). Mainan kerincing bukan untuk digerakkan cepat-cepat, karena rentang konsentrasi bayi masih pendek. Dekatkan mainan kerincing ke arah bayi, lalu gerakkan pelan-pelan ke kanan dan ke kiri setelah mata bayi terfokus pada mainan itu.

3) Melatih bayi menggunakan sedotan saat berusia 1-2 bulan. Lakukan saat kemampuan menyedot bayi yang dimilikinya sejak lahir belum hilang. Hal ini akan mengasah gerakan lidah dan bibir, sehingga turut meningkatkan kualitas cara bernapas dan pelafalan.

4) Selalu berhadapan saat berbicara dengan anak. Supaya bayi melihat pengucapan dan ekspresi orang tua.

5) Mengenalkan bau-bauan kepada anak-anak. Segala jenis bau, jangan hanya yang harum.

6) Biarkan bayi mengoyak-ngoyak kertas. Kalau bisa menyobek-nyobek sampai kecil, untuk melatih jari-jari bayi. Bayi juga akan belajar tentang arah ketika menyobek-nyobek kertas.

7) Ajak bayi menonton televisi. Televisi adalah salah satu bahan ajar yang bisa dimanfaatkan. Orang tua bisa membimbing anak menirukan gerakan yang menarik. Namun, melakukan hal yang sama dalam jangka waktu lama akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi otak, jadi istirahatlah 15 menit jika menonton televisi 1 jam.

Komentar Ken Mogi-sensei: yang jelek bukan “menonton televisi”, tetapi “membiarkan anak menonton televisi tanpa mengawasinya”.

df: Hanya berlaku untuk stasiun televisi yang ramah dengan anak (parameter: isi tayangan, iklan, penggunaan bahasa). Bagaimana dengan di Indonesia, terutama keluarga yang tidak berlangganan siaran teve kabel? Hmmm….

D. Untuk balita yang mulai berjalan:

1) Seragamkan seluruh jam di rumah menjadi jam analog. Tujuannya untuk melatih anak menghubungkan kejadian di sekitar (rutinitas) dengan waktu, misalnya dengan berbicara kepada anak:

“Lihat posisi jarumnya waktu makan kudapan sore.”

“Lihat posisi jarumnya waktu mandi.”

2) Minta anak melipat handuknya menjadi 3 lipatan, bukan 4. Untuk membiasakan anak dengan konsep mengukur secara kira-kira.

Selain itu, ada pertanyaan titipan dari produser siaran tersebut. Anaknya susah berkonsentrasi, katanya. Dan inilah jawaban Kayoko Kubota.

Cara meningkatkan konsentrasi anak:

Menetapkan aktivitas yang lebih menyenangkan, memberitahukannya kepada anak, dan menghentikan aktivitas sebelumnya dengan membuat batas waktu.

Misalnya, “Siapa yang suka main di luar?”

“Luna mau!”

“Kalau gitu, ayo bereskan mainan sampai jarum yang panjang di bawah.”

***

Tayangan itu bisa ditonton di sini (dalam bahasa Jepang; update: sudah dihapus oleh Youtube):

Bagian 1: http://www.youtube.com/watch?v=VCT1TvO0HUo

Bagian 2: http://www.youtube.com/watch?v=JXj4-8AJsEI

Bagian 3: http://www.youtube.com/watch?v=ZiKYJ1JSLqU

Bagian 4: http://www.youtube.com/watch?v=23RyU2EK5i4

About Dina Faoziah

An Indonesian mother. Supports personalized education. Sees school merely as one of the vehicles to achieve dreams.

25 Responses to “Cara Mendidik Anak Berbakat Ala Kayoko Kubota (1)”

  1. TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

    df: sama-sama, Pak Saut.

  2. Mudah mudahan anak ku pintar melebihi bpk kayoko

    df: amien!

  3. mbak dinaaaa…ini Putri. sekarang aku masih di malaysia. bentar lagi balik ke jakarta.

    makasih bangeeet artikelnya. nyari artikel mendidik anak dari mas google ketemunya punya mba dina. waah, udah jadi referensi utama niih.

    setelah dievaluasi, Abdussalam anakku yang 1th banyak belum diajarin ini itu,yah…hmm…tapi udah diajarin hal2 lain juga,koo.hehe

    Mbak, pingin nanya tentang konsep dan cara pendidikan multi bahasa pada anak sejak dini,dong.
    lagi nyari2 artikel, belum ketemu. kalau punya, bagi tahu,yaa…

    pertanyaanku:
    1. perlu nggak sih, ortu punya bahasa rahasia?(sehingga kalau ngomong di depan anak mereka ga ngerti.) jadi maksudnya, skill b.jepang ga diajarin ke anak, karna ingin punya bahasa rahasia. penting,ga, siih?

    2. usia berapa anak mulai diajarkan multibahasa,ya? awalnya sy pikir sampai dia bisa bicara yang bermakna, jangan diajarkan 2bhsa atau lebih biar tidak bingung. ada masukan?

    3. gimana tips ngajarkan multibahasa,ya?
    sekali ngomong langsung 2 bahasa, atau
    kalau sama ibu bahasa ibu, kalau sama ayah bahasa inggris, atau
    kalau di rumah bahasa inggris, kalau di luar bahasa indonesia.

    gmn,yaa? Thanks banget, and sukses selaluuuuw

    df:
    Assalaamu’alaykum Uut :D
    Wah, ketemu lagi di sini, yak, hihihi…

    Dulu waktu Luna kecil aku malah nggak tahu sama sekali tentang Kayoko Kubota, hihihi… baru nonton tahun lalu. Sama dong, banyak yang tidak kulakukan bersama Luna waktu dia kecil dulu (kalo menurut ajarannya Mbah Kayoko, yak :D).

    >>1. perlu nggak sih, ortu punya bahasa rahasia?(sehingga kalau ngomong di depan anak mereka ga ngerti.) jadi maksudnya, skill b.jepang ga diajarin ke anak, karna ingin punya bahasa rahasia. penting,ga, siih?

    Terserah sih. Kalo aku bahasa rahasianya bahasa Jawa, hihihi… Tapi katanya lama2 anak akan mengerti loh, dari konteks. Aku pernah membaca kisah multibahasa, di mana yah, lupa, maap :D Intinya si ayah dan ibu ngomong dg bahasa rahasia, bahasa yg nggak diajarkan kepada 3 anaknya. Itu bahasa apa yah, lupa, kalo nggak salah sih Jerman atau apa gitu. Nah, setelah anak2 agak gede, mereka ditanyai, sebenernya mereka ngerti nggak sih yang diomongin ayah-ibunya (misalnya waktu bertengkar). Katanya tahu 100% :D tapi mereka nggak aktif berbicara, cuma memahami artinya.

    Jangan lupa bahwa anak cerdas sekali dalam menyerap bahasa, hihihi… Coba bahasa rahasianya bukan bahasa Jepang, tapi sandi Morse :D

    >>2. usia berapa anak mulai diajarkan multibahasa,ya? awalnya sy pikir sampai dia bisa bicara yang bermakna, jangan diajarkan 2bhsa atau lebih biar tidak bingung. ada masukan?

    Ada yang bilang anak jangan diajari bahasa lain sebelum ia menguasai satu bahasa, ada yang bilang bersamaan juga nggak pa2. Kebetulan dari interaksi kami dengan Luna, tidak ada masalah. Sejak usia 5 bulan Luna dititipkan di hoikuen. Di rumah kami berbahasa Indonesia. Sejak lahir hampir semua bukunya berbahasa Inggris.

    Tidak ada resep dengan tingkat kesuksesannya sama untuk semua anak. Sebelumnya perlu didefinisikan, apa itu multibahasa?

    Silakan Uut baca-baca beberapa tulisanku di blog ini, tentang multibahasa. Barangkali bisa mendapat ide dari pengalaman orang lain. Baca juga kontemplasiku pada akhir tulisan “Tentang Bahasa yang Lebih Dominan”.

    >>3. gimana tips ngajarkan multibahasa,ya?
    sekali ngomong langsung 2 bahasa, atau
    kalau sama ibu bahasa ibu, kalau sama ayah bahasa inggris, atau
    kalau di rumah bahasa inggris, kalau di luar bahasa indonesia.

    Banyak cara, kok.
    Misalnya, kalau hidup di Indonesia, di rumah menggunakan (bukan mengajarkan) bahasa yang tidak dominan. Bahasa yang dominan adalah bahasa yang digunakan oleh lingkungan sekitar. Risikonya, tidak sedikit orang yang tidak memahami maksud kita lantas mencemooh begitu saja, “Ah, sok amat loe, anak sendiri nggak diajarin bahasa Indonesia.” :D

    One parent one language (OPOL) juga boleh.

    Masih banyak cara lain, mungkin kombinasi, variasi, dll.

    Kalau kami, sama sekali tidak menggunakan bahasa Jepang di rumah meskipun hanya sepotong. Misalnya, “Luna udah makan da yo ne…” –> Amat kuhindari. :D Kecuali untuk istilah yang lebih akrab, ya. Misalnya kalo hoikuen ya kami tetep ngomong hoikuen.

    Aku sendiri tidak bisa mengatakan Luna pandai berbahasa Inggris. Dia mengerti, tapi belum bercakap-cakap dengan aktif tanpa hambatan seperti halnya bahasa Indonesia atau bahasa Jepang. Stimulannya masih kurang. :D

    Alhamdulillah, Luna nggak pernah malu berbahasa Indonesia ketika aku menjemputnya di hoikuen. Berbeda dengan salah satu teman sekelasnya, anak China. Kalau di depan orang lain dia tidak mau berbahasa China, malu-malu gitu. Ibunya sendiri pernah mengatakan, “Tuh, Luna aja berbahasa Indonesia, kok.”

    Aku tipe cuek, Uut. Jadi, aku nggak berkepentingan isi pembicaraanku dengan Luna dalam bahasa Indonesia diketahui orang lain, yang penting nggak nggosip :D Ada orang lain di hoikuen pun aku tetap berbahasa Indonesia dengan Luna.

    Sampe ada sesama ortu hoikuen yang mengira aku nggak bisa berbahasa Jepang :D

    Selain itu aku juga sering memuji Luna. “Luna bisa bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Inggris, bahasa Jawa, sama bahasa Arab, ya. Kalau teman Luna cuma bisa bahasa Jepang.”

    Sekali2 perlu memuji, asal tahu batas, hihihi… Padahal yang dimaksud bisa bahasa Jawa baru sebatas menjawab, “Jenengmu sopo? Umurmu piro?” dan bahasa Arab adalah membaca huruf hijaiyah dengan fathah aja. :D

    Dengan begitu Luna juga tambah semangat.

    Mudah2an Uut dan Robin konsisten dalam mendidik Abdussalam dan adik2nya nanti, yah. Amien!

  4. mba dinaaaa…trimakasih banget jawaban yang panjang dan menyenangkan hatinyaaa…
    maaf sekali aku baru bales lagi. kmaren itu biasalah, internetnya mogok. cuma sempet baca offline, ga bisa kirim reply.
    hmm…aku sudah mencerna artikel2 yang direkomendasikan.
    dan mulai memantapkan diri metode apa yang mau dipakai.taelaaah…
    mungkin akan ada banyak perubahan kalau nanti pindah ke jakarta dan masih harus numpang di kakek-neneknya sementara.

    tar kalau ada yang mau didiskusiin lagi, ngetok2 lagi,loh,yaaah.

    df: iya, soal internet santai aja Uut :D bagiku banyak pelajaran dari sekitar, yg penting disesuaikan dg nilai2 keluarga, yah. selamat menikmati mendidik anak :D

  5. halo mbak salam kenal,
    makasih infonya, website nya bagus sekali, kebetulan saya sedang mencari bahan untuk pembelajaran anak dan website nya sangat membantu.

    df: salam kenal juga Mbak Fitri (semoga benar panggilannya…). alhamdulillah kalau membantu, saya juga senang :D semoga kita semua selalu konsisten dlm mendidik anak, amien!

  6. Mbak Dina artikelnya aku copy ya untuk ditaruh di fb aku.

    Cheers,
    Dinna

  7. Mbak, blognya bagus..artikelnya juga keren2 ^^

    Semoga saya bisa belajar banyak ya Mbak ^^

    • Makasih, Een (=^▽^=) Btw tadi saya nyoba kirim komentar di tulisan Een, tapi kayaknya gagal. Saya salin di bawah, ya.


      Belajar multibahasa sudah menjadi kebutuhan (=^▽^=)

      Dua hal yg harus diingat:
      1) Harus kebal kalau ada yang mencela, “Gak nasionalis.” Padahal belajar bahasa asing gak ada hubungannya dg nasionalis atau tidak. Juga kemungkinan cercaan yang lain, misalnya jika bahasa ibu anak tidak sesempurna harapan orang lain.
      2) Harus konsisten. Orang tuanya tidak mencampur2 bahasa dalam satu kalimat, kecuali untuk menerangkan artinya.

      Yg sulit juga: mencari formula yang tepat untuk mengajari anak multibahasa.

      Bagi saya, mengajari bahasa Inggris sampai pada level tertentu mudah karena banyak sekali bahan yang tersedia di internet. Yang sulit justru bahasa Indonesia (=^▽^=) karena bahannya masih sedikit. Video untuk anak dalam bahasa Indonesia yg bermutu pun hampir tidak ada. Betul?

      Bahasa Jepang juga banyak bahan gratis di internet. Pasti Een bisa! (=^▽^=)

  8. Dina….gimana kabarnya ??? seneng bisa baca-baca tulisan Dina , banyak belajar dari tulisan Dina ….. biar anak-anakku pinter kayak Luna :))

  9. waaah..keren..
    aku copy yah mbak
    walau belom menikah tapi buat bahan bacaan bagus juga ini :D

  10. salam kenal mbak,
    saya siska. sudah 2 minggu ini saya kerja dan anak saya cahacha ( masih berumur 7 bulan) saya tinggal dirumah bersama nenek dan mbak pengasuhnya. gimana cara mendidik anak saya agar anak saya pintar dan cerdas. karena kami hanya ketemu pagi dan malam hari

    • Hai Mbak Siska! Salam kenal juga. Wah, gimana yah, sebenernya saya gak punya resep detail supaya anak pintar dan cerdas, hehehe… Hanya dua hal yg diperlukan: ketelatenan dan kekonsistenan. Telaten dalam mendidik anak dan konsisten dlm mengerjakan sesuatu.

      Perlu kerja sama orang tua (ayah-ibu) dan juga pengertian dari keluarga besar (termasuk pengasuh) ttg pola mendidik anak menurut ayah-ibu. Ketemu pagi dan malam saja dengan anak bukan halangan dalam mendidik anak, kok. Hampir sama dengan kondisi kami sekarang karena setiap hari dari jam 9 sampai 17.30 Luna dititipkan di penitipan anak. Kami masih bisa melakukan banyak hal bersama Luna. Jadi yakin deh, Mbak Siska pasti bisa (=^▽^=)

  11. Artikel menarik dan blog yang sangat edukatif plus bermanfaat..pokoknya T O P deh…
    Saya Kak Zepe…Salam Kenal…
    Saya juga punya tisp pendidikan kreatif…
    banyak lagu anak yang bisa dipakai untuk gerak
    dan lagu..dan masih banyak lagu anak-anak lainnya..
    Lagu2 saya sudah banyak dpakai di TK dan PAUD seluruh Indonesia..pokoknya segala sesuatu tentang anak ada di blog saya..
    Mari berkunjung di blog saya
    Di http://lagu2anak.blogspot.com
    Kalau mau bertukar link, silakan lho…

  12. wah makasih banyak info nya, baru aja memikirkan tentang anak saya yang baru 1 tahun, masih bingun cara mendidiknya, siapa tau ini bisa dicoba dan aka saya menjadi anak cerdas yang saya idamkan…

  13. hai…lam kenal…anakqu 14 bulan pendiam bgt walau mulutku udah berbusa ngajarin ngoceh ya,kta ya krna kbnyakan nonton tv,duch aq jdi bingung!sbnarya boleh gak sich nonton tv?

    • Hai Mbak Inna, salam kenal!

      Menurut saya nonton teve boleh2 aja, Mbak Inna, asal tahu porsi yg tidak berlebihan dan juga tidak sembarang acara ditonton.

      Saya di rumah udah gak pernah nonton sinetron Jepang lagi di hadapan Luna. Tontonannya hanya yg aman2 saja, seperti pertandingan olahraga, acara kuliner, kuis mendidik, dan acara anak. Pagi sebelum berangkat ke hoikuen (penitipan anak) tidak ada TV, baru menyetel TV malam hari. Itu pun kadang2 dan tidak sepanjang waktu.

      Kalau Mbak Inna sudah merasa banyak bicara, sudah bagus, Mbak. Mungkin anak Mbak Inna sedang menyimpan dan memproses kata2 yg Mbak Inna ucapkan. Baru nanti keluar, langsung cerewet dan banyak kosakatanya :D

  14. Hai Salam Kenal mb Dina..kebetulan Nama Kita sama sama Dina nich..saya Baru setahun be rumah tannga Dan alhamdulillah baru saja dikaruniai anak (jd baru 26har become new mom)..pengen Tanya nich klo mendidik anak Dari umur sekarang apakah harus sudah dimulai dengan berbicara Bahasa asking atau bagaimana ya? Tp kendalanya saya tidak begiti lancar Bahasa inggris contoh ya tp saya pengen anak saya bisa multibahasa..sebaiknya bagaimana ya? Trus ya g kedua saya adalah wanita bekerja melahirkan dapet cuti 3 bulan, setelah itu mesti mask kerja lagi Dan pastinya yang mengasuh nnti adalah orang lain ato keluarga yang sama sekali tidak bisa Bahasa asing, bagaimana sebaiknya ya? Mohon di sharing ilmu ya..terimakasih..

    • Halo Mbak Dina… salam kenal juga.

      Pertama2, selamat atas kelahiran anak Mbak Dina! Semoga semangat Mbak Dina tetap bertahan sampai anak besar, ya.

      Kalo saya sih dengan Luna nggak pernah berbicara dalam bahasa asing, jadi ngobrol sehari2 tetap dalam bahasa Indonesia. Cuma buku2nya 90% bahasa Inggris. Buku bahasa Jepang kami gak pernah beli, terus buku bahasa Indonesia (termasuk Majalah Bobo) nitip temen dikirim lewat pos laut.

      Nah, dari cuma dibacain gitu Luna ternyata ngerti. Jadi secara berkala masih beli buku bahasa Inggris sampe sekarang. Selain itu saya juga langganan tv kabel. Kalo Mbak Dina punya anggaran, ntar langganan tv kabel aja (dan org rumah dilarang nonton sinetron/tayangan gak mutu di depan anak, hihihi…).

      Dari nonton Disney Junior aja udah lumayan banget, kok. Luna juga tau, ngerti ceritanya.

      Btw Luna dititipin di hoikuen sejak umur 5 bulan, jadi sepanjang hari dia dengar bahasa Jepang di lingkungan luar, di rumah baru bahasa Indonesia & bahasa Inggris. Bahasa Inggris pun menjelang tidur aja, tapi karena setiap hari (kuncinya konsisten ya), jadinya ya bisa. Intinya apa pun kalau konsisten, insya Allah bisa.

      Makanya, yg mengasuh tidak bisa bahasa asing nggak pa2, nggak ada masalah. Nggak usah dipaksain.

      Semoga membantu, yah…

  15. Mba.artikelnya bagus bgt.mba,sy mw tnya dong buku2 apa yg bgus u anak usia 2thun?yg brhasa inggris..tp biasanya mahal ya mba?

  16. anakq udah hampir 3 thun trus anaknya pengen nya main terus, gimana ya mb’dina caranya agar dia fokus ketika belajar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers

%d bloggers like this: