Reina

Reina, adiknya Luna, lahir awal September kemarin. Mirip siapa, ya? Jaiko? Judge Bao? Jembar bathuke, jembar atine. (df)

Continue reading

38 Minggu

38 minggu dan 9 kilogram. (df)

Continue reading

When Daddy Had the Chicken Pox

http://www.youtube.com/watch?v=f_6hHLII4K8&

Luna membaca When Daddy Had the Chicken Pox, Pictures by Lionel Kalish, Sterling Publication.

Continue reading

Hal Kecil Tapi Konsisten

Pembicaraan tadi pagi dengan teman di Nagoya (hai, Ambi!) membuatku mengingat apa saja yang selama ini kami lakukan bersama Luna, apa saja yang tidak konsisten, dan sebagainya.

Frekuensi penulisan blog ini memang makin berkurang seiring dengan kesibukanku di luar rumah. Boleh dibilang aku juga tidak segiat dulu dalam beraktivitas bersama Luna. Yang harus disyukuri, chan juga punya sederet ide kegiatan bersama Luna. Kami berdua kompak.

Dari ngobrol-ngobrol dengan Ambi tadi, kesimpulannya: 1) Tidak perlu menetapkan target mendidik anak yang mengungkung pikiran kita, apalagi sampai terbawa-bawa mimpi, hihihi… 2) Lakukan hal-hal kecil tapi konsisten.

Coba daftar hal-hal kecil tapi konsisten yang teman-teman lakukan. Kalau kami, sebelum tidur Luna membaca buku sendiri, dibacakan berbagai buku, dan belajar Iqro’. Setiap pagi kami juga memutar NPR agar Luna terbiasa dengan pelafalan bahasa Inggris penutur asli. Omong-omong, Luna pernah melontarkan protes, “Kok ini lagi, kemarin ‘kan udah dengerin.” Oh, ternyata sesuatu yang kelihatannya remeh tertangkap juga oleh telinga anak 5 tahun.

Kelihatannya mudah, ya? Mudah kok, kalau nggak menargetkan yang muluk-muluk, hihihi…

Setelah ini kami harus menggarap bahasa Indonesia Luna dengan lebih serius, sebelum Luna memasuki usia SD tahun depan. Sambil menunggu buku-buku kiriman Aan, penulis buku anak yang berbaik hati mencarikan buku-buku anak Indonesia untuk Luna. Juga hadiah dari Rini, yang seperti pengakuannya sendiri, kolektor singa mati.

Perjuangan masih berlanjut! (df)

Luna Sudah Bisa Membaca, Alhamdulillah

Udah lama yah, gak nulis perkembangan belajar membaca Luna. Alhamdulillah, Luna sekarang sudah lumayan lancar membaca. Masih bahasa Inggris sih, bahasa Indonesianya belum. Di dalam video di atas, Luna (5 th) membaca Dora’s World Adventure.

Beberapa tulisan terdahulu tentang belajar membaca Luna bisa disimak di sini. (df)

Imajinasi Luna

Beberapa waktu yang lalu Luna dengan serius menerangkan tentang imajinasinya. Tidak terlupakan sebab imajinasi itu diuraikannya dengan detail.

Ini dua imajinasi Luna yang dituturkannya kepadaku dan chan akhir-akhir ini.

1. Kamera, yang bila digunakan untuk memotret akan otomatis memunculkan nama-nama orang yang dipotret di bawah sosok orang tersebut. Nama kamera itu “Shine”.

“Kalau nama benda-benda di sekitarnya?” tanyaku.

“Itu enggak,” jawab Luna.

“Berarti kamera itu sudah punya database,” kataku lagi.

“Apa itu database?” tanya Luna ingin tahu.

Kemudian hening.

2. Kantor polisi yang akan menangkap penjahat. Kantor polisi itu disamarkan (“Tidak ada tulisan koban,” kata Luna). Kacanya dilapisi kertas hitam. Ada pengumuman kecil, “Orang baik jangan masuk.” Orang jahat yang masuk (dan tidak tahu-menahu mengenai peringatan itu) langsung ditangkap. Jumlah orang jahat jadi berkurang.

Makasih, Lun! Dengan imajinasimu, dunia akan lebih indah dan fitur penanda foto (tagging) di Facebook jadi terasa kuno. (df)

Jalan Kaki ke Hoikuen

Akhir-akhir ini Luna sering diajak chan berjalan kaki waktu berangkat ke hoikuen (penitipan anak). Biar terbiasa berjalan kaki, demikian menurut chan.

Dengan kecepatan Luna (plus mampir dan berbagai selingan lainnya), perjalanan dari rumah ke TPA Harumi ditempuh dalam waktu 25 menit. Lewat Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo (Nokodai).

Posisi pertama.

Posisi kedua.

Posisi ketiga. Mulai protes kenapa difoto-foto terus.

Posisi keempat. Senyumnya makin dipaksakan.

“Kalau foto terus nanti Luna terlambat!” (df)

Kartu Pos dari Luna

Kartu pos dari Luna buat chan yang dikirim dari Bangkok tiba hari ini.

Universitas Chulalongkorn, Thailand. Letaknya di pusat kota Bangkok.

/Semoga bencana banjir di Thailand dapat segera diatasi. (df)

The World Almanac For Kids, 1st Grade

Luna (5 th) mengerjakan beberapa halaman buku The World Almanac For Kids, 1st Grade, Age 6-7. Tepatnya, bagian Reading, kata Thompson.

Buku ini berhasil mencuri perhatianku di antara deretan buku serupa di Kinokuniya Siam Paragon. Ada tiga alasan. Pertama, aku mencari buku belajar untuk kelas 1 SD yang tidak terlalu mudah sekaligus tidak terlalu sulit; buku ini memenuhi kriteria tersebut. Kedua, isinya bervariasi dan gambarnya menarik. Ketiga, harganya cukup terjangkau; 392 baht untuk buku setebal 303 halaman.

The World Almanac For Kids, 1st Grade, Age 6-7 terdiri atas 14 bagian: Reading, Phonics, Vocabulary, Math Skills, Addition and Subtraction, Shapes and Measurements, Clocks and Calendars, Science, Plants and Animals, Earth and Weather, Dinosaurs, Transportation, Games and Puzzles, dan Answers.

Contoh bahan belajar untuk Reading adalah rima (dog berima dengan frog), adjektif tata tingkat (tall, taller, tallest), dan suku kata (apple memiliki 2 suku kata).

Kosakata.

Kegiatan di buku ini bukan melulu menulis atau menarik garis. Di halaman 86 bagian Vocabulary, anak diminta menggunting bagian dari kata majemuk (compound word). Misalnya, butterfly digunting menjadi butter dan fly.

Bentuk dan ukuran. Satuan yang dipakai bukan sistem metrik, melainkan sistem standar AS. Tidak apa-apa, sekalian buat belajar Luna. FYI, buku ini terbitan Chronicle Books yang bermarkas di San Francisco.

Mengenali bagian lumba-lumba.

Halamannya berwarna-warni, ‘kan? Ukuran tulisan yang cukup besar dan perintahnya yang sederhana juga memudahkan anak.

The World Almanac For Kids, 1st Grade, Age 6-7 memang tidak bisa menggantikan buku bertema spesifik (misalnya matematika saja), tetapi lumayan bagus untuk melengkapi belajar anak. (df)

Idul Fitri 1432 H

Selasa, 30 Agustus 2011

Penentuan lebaran yang seru bukan hanya di Indonesia, lho. Jepang yang rencana awalnya berlebaran pada Rabu, 31 Agustus justru berubah menjadi Selasa, 30 Agustus sesuai ketetapan Islamic Center-Japan. Kabar tersebut baru beredar pada hari Senin sekitar pukul 22.30.

Malam itu aku langsung mengontak Risma, sesama mahasiswi Nokodai (eh, aku mantan ding, jadi malu (⌒▽⌒)V) untuk bersama-sama ke masjid esok harinya. Sempat terpikir untuk ke Masjid Tokyo Camii di Yoyogi Uehara, tetapi setelah membaca rekomendasi teman, kami memutuskan untuk ke Masjid Al-Tawheed di Hachioji yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya.

Perjalanan dari Fuchu ke Hachioji ditempuh selama 18 menit dengan kereta Keio (gak jauh-jauh amat), disambung dengan bus yang berhenti di halte seberang masjid.

Ceramah ied diselenggarakan dalam bahasa Urdu, kalau tidak salah. Maap, kurang tahu pastinya.

Begini suasana pasca-salat ied. Ada yang dari Singapura, Jepang, dan … maap lupa, duuuh! Tebak aja, ya! :D

Ikut mejeng dong, mumpung udah kenalan :P Mereka berlari-larian di dalam masjid waktu acara makan-makan. Eh, tapi sebelumnya Luna malu-malu banget. Risma yang berhasil mengabadikannya melalui video berikut:

Hari ini ditutup dengan jalan-jalan untuk pertama kalinya di sekitar Stasiun Hachioji.

Rabu, 31 Agustus 2011

Saatnya makan-makan di KBRI, yuhuu!

Omong-omong, KBRI Tokyo mengadakan salat ied dua hari, Selasa dan Rabu, untuk mengakomodasi masyarakat Indonesia di Jepang yang tidak tahu hasil sidang Islamic Center-Japan. Open House tetap diadakan pada hari Rabu.

KBRI Tokyo berada di Gotanda. Dari Fuchu musti naik kereta dua kali, Keio plus Yamanote. Omong-omong, KBRI Tokyo terus berbenah dan terlihat makin dekat dengan masyarakat, loh. Selain makin mempercantik situs, KBRI Tokyo juga aktif di jejaring sosial semacam Twitter dan aktif membuat dokumentasi film dan mengunggahnya di Youtube. Video suasana Open House juga ada!

Hidangan utamanya adalah ketupat sayur! Kudapannya antara lain pastel dan bikang ambon. Tentu saja ibu hemat ini berhasil membawa pulang banyak kudapan dengan plastik yang sudah disiapkan dari rumah.

Setiap acara untuk masyarakat Indonesia pasti reuni, deh. Di Stasiun Gotanda ketemu Kato (Hiroaki Kato), lulusan Tokyo University of Foreign Studies (Gaidai) yang suka main musik dan mengajar bahasa Indonesia. Kato (atau Hiro, demikian orang lain memanggilnya) aktif di Twitter. Videonya waktu manggung di Festival Indonesia bisa ditonton di sini.

Ketemu Panji (pemagang) dan teman-temannya. Dulu pernah ketemu di Kafe Merah Putih di Shinokubo, Tokyo. Waktu itu seorang muridku ternganga ketika Panji (yang paling tinggi) masuk ruangan, lalu nyeletuk, “Ganteng sekali!” Padahal muridku laki-laki loh, hihihi…

Tidak lupa berfoto dengan Pak Dubes Muhammad Lutfi. Yang berada di tengah Noriko-san, guru piano Luna yang juga pencinta Indonesia.

Di sana aku janjian sama Pipiet (alias Puspita bagi pendengar Radio Jepang, NHK). Teman Pipiet, Riska Dwi, yang juga penyiar Radio Jepang mengambil kesempatan ini untuk mewawancarai Noriko-san. Wawancaranya disiarkan pada hari Jumat, 2 September untuk Pojok Tamatebako.

Dari kiri: Pipiet, Dina, Luna, Riska.

Tidak lupa pula berfoto dengan Ibu Bianca Adinegoro Lutfi.

Setelah dilihat-lihat, posisi koala Luna sejak awal sampai akhir tidak berubah. Demikian kisah Idul Fitri tahun ini o(^-^o)

Eid Mubarak! (df)

Musashi Koganei

Pemandangan dari halte bus Coco, bus komunitas Koganei.

Stasiun Musashi Koganei. Tempat kereta JR Chuo berlalu lalang.

Papan petunjuk di halte bus Stasiun Musashi Koganei Pintu Selatan.

Pertokoan di sebelah kiri. (df)

Dadaaah Ngemut Jempol!

Horeee! Ada yang udah berhenti ngemut jempol … udah 2,5 bulan, lho! (ノ^-^)ノ

Yang bikin sukses adalah … cabe? Bukaaan! Kunyit? Bukan juga! Plester? Mboten, itu juga tidak sukses, Jeng!

Sebenarnya aku udah lama menyerah, gak mau ngingetin Luna lagi soal giginya yang sedikit tonggos itu atau jempolnya yang sudah mengapal. Udah pasrah sambil kadang-kadang berdoa, semoga si gendhuk sadar sendiri pas umurnya udah 7-8 tahunan gitu (ibu yang pesimis).

Eh, pada suatu hari di bulan Mei, ada laporan dari hoikeun, eh, hoikUEn (jadi berasa seperti bahasa Sunda) alias tempat penitipan anak, bahwa Luna berbenturan cukup keras dengan temannya sampai hidungnya mimisan.

Luna kutanya, “Masih sakit?”

“Enggak,” jawab Luna, “tapi giginya sakit.”

Biasa tuh, pikirku. Didiemin aja, entar lama-lama juga hilang. Nggih?

Ternyata oh ternyata, kira-kira seminggu setelah kejadian itu, kutemukan salah satu gigi Luna menggelap. Tepatnya, gigi upper incisor kanan, kata Thompson. Langsung bikin janji dengan dokter. Kebetulan ada klinik yang baru buka dan peralatannya tampak canggih.

Pertama kali ke sana, Luna menolak dengan hebat, gak mau buka mulut sama sekali (=^_^=)

Biar gak rugi waktu (soalnya perawatan buat anak gratis), aku minta diperiksa, deh. Kebetulan karang gigi sudah mantap bertengger di gigi di bawah pemerintahan koloni bakteri.

Nah, di rumah kami berusaha membujuk Luna lagi supaya mau diperiksa. Alhamdulillah, pekan berikutnya Luna sudah mengikhlaskan giginya diperiksa. Hasilnya, dokter meminta kami mengamati dulu selama 6 bulan. Saat ini gak ada yang perlu dilakukan karena Luna masih kecil dan gak ada keluhan ngilu lagi.

Dokter juga menunjukkan beberapa gambar gigi yang pernah terbentur. Katanya, untuk kasus seperti Luna, ada 3 kemungkinan:
1) Gigi dewasa bisa tumbuh normal
2) Gigi dewasa tumbuh normal, tapi warnanya agak kekuningan
3) Gigi dewasa tidak sempurna

Baiklah, mari kita lihat beberapa bulan ke depan.

Btw, Luna ngemut jempolnya cuma sebelum tidur dan pas tidur. Mungkin gak susah2 amat sih berhenti, dibandingkan kalo ngemutnya pas sadar. Jadi, waktu dikasih tahu kalau kebiasaan ngemut jempolnya akan berakibat makin buruk terhadap giginya yang menghitam itu, Luna langsung menurut.

Yang jelas sih, setelah sukses berhenti ngemut jempol ini, gigi Luna yang sempat tonggos udah gak maju2 amat (ternyata keajaiban itu bisa terjadi), kuku jempolnya bisa tumbuh untuk pertama kalinya setelah 5 tahun, dan kapal di jempolnya menghilang. Banzaaaaai! \(^O^)/

Main Piano


Perkembangan pelajaran piano Luna:

- Buku David Carr Glover Piano Student, Primer Level (oleh David Carr Glover dan Louise Garrow) … tinggal dua lagu.

- Buku David Carr Glover Piano Repertoire, Primer Level (oleh David Carr Glover dan Louise Garrow) … sampai halaman 14 (dari 24).

- Buku A Dozen A Day (Edna-Mae Burnam) … sampai halaman 25 (dari 29).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers